Ada Apa dengan Air Indonesia? Musim Hujan Banjir, Kemarau Kering
Air
merupakan hal yang krusial secara mutlak. Manusia sebagian besar terdiri dari
air. Air merupakan pelarut paling baik. Air membantu manusia dan makhluk hidup
lainnya dengan peran yang amat besar. Kegagalan pengelolaan air jelas akan
membawa mimpi buruk besar tidak hanya bagi manusia tetapi pula bagi semua jenis
makhluk hidup. Siklus hujan terganggu, perubahan iklim terganggu, ketersediaan
pangan dan keberlangsungan tumbuhan, hewan hingga manusia pun ikut terganggu.
Jelas menggoyahkan dasar-dasar kebutuhan dalam melangsungkan keberlangsungan
hidup manusia. Ketika hal itu terjadi, jelas bahwa sektor ekonomi, militer, dan
berbagai hal yang tak berdampak langsung pada kemampuan bertahan hidup individu
akan tersingkirkan.
Kala
ini, di tengah pandemik, air jelas amat krusial sebab menjadi bagian dari
sanitasi. Melalui air yang cukup, sanitasi menjadi baik, pun kesehatan
meningkat. Namun, kemarau dan banjir yang silih berganti jelas menunjukkan
ambigu. Mengapa bisa kelebihan air saat musim hujan tetapi kekeringan saat
kemarau? Rupanya pengelolaan dari berbagai pihak terutama pemerintah menjadi
faktor utama. Apabila kemarau diiringi kekeringan datang saat pandemi, belum
pula melihat krisis pangan dan ekonomi yang mungkin terjadi, tidak dapat
disangkal bahwa korban jiwa bisa menjadi bertambah parah karena tidak bisa
makan dan tidak bisa mengakses air.
Air
memiliki jumlah yang tetap. Berputar pada siklus air yang sudah diajarkan sejak
sekolah dasar. Air menggenang menguap menjadi awan dan turun lagi dalam bentuk
hujan lalu berpencar menjadi genangan air, air tanah, air laut, atau membeku. Air
di bumi didominasi air garam (96%) sementara air tawar yang bisa digunakan
untuk kehidupan sehari-hari merupakan sisanya. Berbagai sumber air tawar yaitu
danau, air tanah, atmosfer, dan yang paling besar mengandung air tawar adalah air
beku berupa gletser dan sejenisnya. Pemanasan global kala ini dikabarkan menyebabkan
cairnya gletser secara masif sehingga menurunkan secara signifikan cadangan air
tawar dan dapat menyebabkan kekeringan yang mengerikan di bumi sebab air di wilayah
satu sama lainnya saling berpengaruh.
Bagaimana dengan
Indonesia?
Seperti
sudah disinggung banyak pada podcast KBR : Antisipasi Ancaman Bencana Kekeringan2020, Indonesia tidak mengalami krisis air dari segi jumlah, namun dari segi
pengelolaan. Daerah perkotaan mengalami kendala disebabkan layanan air bersih
yang merupakan hak masyarakat diselesaikan melalui pendekatan ekonomi. PDAM atau
layanan air berbasis pipa digadang menjadi solusi dari air tanah di lingkungan
kota yang berhimpitan sehingga air tanah mudah terkontaminasi terutama oleh
septik tank. Selain itu, ketersediaan air tanah sangat mudah terganggu misal
disebabkan aktivitas penambangan air secara berlebihan pada wilayah tersebut
oleh pihak komersil dan perusakan lingkungan (penambangan dan pembuangan limbah
beracun tanpa diolah terlebih dahulu). Namun, air PDAM yang tidak terjangkau
secara ekonomi menyebabkan mayoritas masyarakat perkotaan, contohnya Jakarta, menggunakan
air tanah sebagai sumber kebutuhan air tawar. Berbicara mengenai kinerja PDAM,
menurut Qodriyatun (2014), kualitas air PDAM belum meningkat signifikan
sementara biaya terus naik. Walau begitu, PDAM sudah meningkatkan cakupan
wilayah.
Di
lain sisi, pada pedesaan tertentu, kekeringan disebabkan berbagai faktor
seperti daerah geografi, penambangan, perusakan lingkungan, dan lain sebagainya.
Namun pedesaan lain justru berlimpah air. Kekeringan menjadi sangat parah sebab
distribusi tidak diatur dengan rapi dan solusi yang tidak bergantung pada air
tanah tidak digalakkan. Baik masyarakat maupun pemerintah jelas harus bahu-membahu
kompak menyelesaikan masalah ini. Sebab apabila pemerintah tidak tegas, perusak
lingkungan akan tetap ada. Apabila masyarakat tidak kooperatif, kekeringan akan
terus melanda. Berbagai industri dijalankan tanpa terdapat studi terkait dampak
lingkungan seperti sektor pariwisata yaitu dengan menjamurnya hotel dan pusat
perbelanjaan yang secara serakah mengeruk air tanah sehingga masyarakat sekitar
rentan mengalami kekeringan air tanah.
Sayangnya,
seiring berjalannya waktu, populasi akan meningkat secara masif sehingga berpengaruh
pada penurunan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air apabila tidak segera
ditindak dengan tegas oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama.
Berbicara
tentang air dan kekeringan, seolah-olah tidak ada lagi yang dapat dilakukan,
ya? Masif sekali dampak dari berbagai bentuk gangguan siklus alam. Tentu tidak
semua orang memiliki akses pada solusi-solusi dari permasalah tersebut. Oleh
karena itu, berikut saya sampaikan hasil riset literatur dan aspirasi saya
terkait, apa yang bisa dilakukan?
Sektor
industri
Industri
terkait air jelas menjadi terbuka lebar, namun apabila hanya menambang air pun
akhirnya sama saja dengan komersialisasi air yang merupakan pendekatan ekonomi
dari pemerintah. Industri air yang dimaksud yaitu mencakup pengelolaan air dan pengelolaan
limbah air.
Pengelolaan
air dapat berupa industri penyaringan air. Dewasa ini, berbagai ilmuwan dunia maupun
pihak industri masih berburu solusi dari kekurangan ketersediaan air tawar. Dimulai
dari proyek air laut di Israel yang akan segera dilaksanakan, penyaring air
dengan penyaring yang sangat kecil sehingga menghasilkan air yang bersih
mikroba, penyaring air secara kimiawi, dan lain sebagainya. Selain itu, industri
PDAM dapat meningkatkan kualitas air dengan mempertimbangkan efisiensi yang
tepat sasaran sehingga menghasilkan air berkualitas dengan budget seminim mungkin. Pengelolaan limbah air dengan menyediakan
pendekatan ilmiah seperti disediakannya lahan basah untuk menyelesaikan
berbagai limbah air terutama limbah air beracun.
Sektor
data air
Satu
pusat data akhir-akhir ini kembali muncul ke permukaan disebabkan kebutuhan
akan data dalam mengambil keputusan di kala pandemi. Jelas terkait jumlah
pasien positif, meninggal, dan sembuh dari seluruh penjuru Indonesia. Namun, di
sisi lain, berbagai bentuk data dari berbagai wilayah di Indonesia
berkolaborasi untuk menunjukkan pada masyarakat dan pemerintah masalah yang
dihadapi saat ini serta di masa depan. Melalui data yang berpusat, daerah
rentan kekeringan dan bagaimana pendekatan yang sesuai dapat terjadi dengan
lebih efisien. Selain itu, melalui data terpusat ini, masyarakat dan pemerintah
sama-sama mengawasi dan data bersifat transparan.
Setiap
daerah memiliki geografi yang unik, hiruk-pikuk industri yang berbeda, curah
hujan berbeda, dan berbagai faktor lainnya yang apabila diolah dengan baik
dapat menawarkan solusi yang tepat sasaran dan efisien. Apakah pembangunan
waduk cocok di Jakarta? Atau PAMSIMAS lebih cocok? Begitupula untuk berbagai
wilayah di seluruh Indonesia.
Sektor
pemerintah
Seperti
sudah disinggung pada podcast KBR, berbagai upaya pemerintahan seperti program
1000 waduk tidak tepat sasaran. Pemerintahan justru melakukan pendekatan
komersialisasi air. Di masa Soeharto, PDAM merupakan solusi kekeringan terutama
di daerah perkotaan dengan basis pipa. Namun, manajemen yang tidak transparan
dan kerjasama yang kurang terkoordinasi dengan pihak perusahaan pengelolaan air
internasional membuat target-target ideal gagal dicapai. Sementara kala ini, air
PDAM masih tidak terjangkau bagi golongan rentan miskin. Hal ini perlu ditinjau
kembali, sebab pendekatan ekonomi sudah terbukti gagal di masa lalu dengan
pendekatan sosial. Selain itu, terdapat program PAMSIMAS (Program Nasional
Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) sebagai solusi bagi
masyarakat pedesaan dan pinggiran kota terutama masyarakat miskin. Program ini berupa
sumur dalam bersama yang dapat menampung ratusan kepala keluarga. Namun, ternyata
program inipun tidak mampu menyelesaikan permasalahan tersebut disebabkan tidak
semua daerah memenuhi syarat PAMSIMAS yaitu memiliki cadangan air tanah. Oleh
karena itu, dibutuhkan inisiatif dari pemerintah menjadikan akses air PDAM
semakin terjangkau, pemetaan solusi bagi setiap daerah, dan komunikasi serta koordinasi
dengan masyarakat terkait berbagai upaya lain seperti penampungan air hujan,
sumur resapan, dan biopori.
Sektor
masyarakat
Pada
sektor masyarakat, warga bahu-membahu bersama komunitas atau lembaga masyarakat
mendesak pemerintahan untuk bertindak tegas atas regulasi-regulasi yang
merugikan dan berdampak pada ketersediaan air. Selain itu berbagai usaha lain
dapat dilakukan dengan:
1. Membangun biopori
Biopori dapat mengarahkan air
langsung ke tanah sehingga akan disimpan sebagai air tanah. Pembuatan biopori
sangat mudah dengan pipa yang ditutup dan dilubangi atas dan badan pipa dengan
lubang-lubang kecil. Penempatan pipa akan lebih baik diletakkan di lahan yang biasa
tergenang air. Selain itu, dengan mengumpulkan sampah organik di dalamnya,
biopori juga dapat menyuburkan tanah di sekitarnya.
22. Membangun penampungan air hujan
Penampungan air hujan sangat cocok dibangun
bersama-sama sebab pemasangan yang rumit dan dibutuhkan pembersihan secara
rutin. Namun, metode ini sangat cocok untuk menghindari kekeringan di musim
kemarau. Selain itu, penampungan yang terdiri dari proses menampung diikuti
penyaringan membuat air hasil akhir penampungan lebih besar dan layak digunakan.
33. Membangun sumur resapan
Sumur resapan lebih permanen
daripada solusi-solusi sebelumnya tetapi memiliki dampak jangka panjang. Sumur
resapan harus terletak di atas posisi air tanah. Sumur resapan dapat menampung
air hujan akibat dari adanya penutupan tanah oleh bangunan baik dari lantai
bangunan maupun dari halaman yang diplester atau diaspal. Selain itu, dalam desainnya,
sumur resapan sudah terdiri dari penyaring alami sederhana seperti kerikil,
sabut kelapa, pasir, dan lainnya sehingga menampung air yang bersih dan cukup
besar dan mampu menghindari kekeringan kala kemarau datang.
4. Menggunakan penyaring air
Saat ini terdapat berbagai jenis
penyaring air. Penyaring air menggunakan reverse
osmosis dan ion exchange menggunakan
mesin khusus. Sementara, destilasi merupakan metode yang sangat ampuh untuk mengubah
air laut menjadi air tawar dan layak pakai. Karbon aktif sendiri merupakan
bahan kimia yang awam digunakan di masyarakat dan dapat dibuat dari bahan-bahan
yang sangat beragam di sekitar masyarakat. Karbon aktif sangat cocok untuk meningkatkan
kualitas penyaringan air sederhana dengan menghilangkan warna dan bau. Sementara,
penggunaan sinar UV sangat ampuh untuk menghilangkan bakteri dan virus namun
tidak menghilangkan kotoran fisik. Selain itu, terdapat metode perebusan air
yang sangat sering dilakukan namun lebih baik dilakukan setelah kotoran fisik
hilang.
Namun, untuk penyaringan fisik yang
sangat sederhana, dapat dibuat menggunakan botol bekas dengan bahan pasir,
kerikil, ijuk, dan lebih baik diberi tambahan karbon aktif. Penyaringan ini
sangat cocok untuk menyaring sumber air tawar yang kotor secara fisik seperti
keruh dan bau. Sebelum dikonsumsi, air dapat direbus supaya bakteri dan virus
mati.
54. Menghemat air
Penghematan air dilakukan dengan
berbagai cara baik hal yang umum sampai hal mendetail seperti:
-
Menggunakan
shower saat mandi
-
Menutup
keran jika air tidak terpakai
-
Menggunakan
mesin cuci dengan kondisi penuh
-
Jangan
membiarkan air tersia-siakan saat mencuci piring
-
Gunakan
ember dan spons saat mencuci mobil, motor, dan sepeda
-
Menyiram
tanaman dengan ember penyiram tanaman
-
Menggunakan
air hujan
-
Gunakan
sabun daripada shower gel saat mandi karena membutuhkan lebih banyak air
-
Atasi
kebocoran air segera apabila terjadi
-
Mengairi
kebun secara rutin dan lubangi tiap 6 inci supaya air mudah mencapai akar
-
Potong
rumput hingga setinggi 1.5-2 inci sehingga dapat menahan tanah lebih baik
-
Gunakan
pupuk secara minimum dari yang dibutuhkan
-
Sirami
tanaman lebih jarang saat musim penghujan
-
Menggunakan
shower maksimal 5 menit
-
Hindari
air tumpah dari gelas akibat penuh
-
Membuat
sistem daur ulang air di rumah
-
Jaga
botol berisi air minum di kulkas untuk menghindari penguapan
-
Menghindari
menyiram tanaman saat berangin dan siang hari karena akan menguap
-
Jangan
menyiram lahan kering
-
Mencoba
tidak bermain air
-
Membawa
botol air ke sekolah dan kantor
5. Meningkatkan penyadaran terkait air
Selain
berbagai usaha individu, masyarakat dan lembaga/komunitas dapat berinisiatif
mengadakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan terkait air dan sanitasi,
menjaga lingkungan, fenomena-fenomena lingkungan yang terjadi disebabkan
pengelolaan SDA yang tidak baik oleh manusia, dan terlebih lagi membiasakan
atau membudayakan masyarakat untuk awam terhadap lingkungan sehingga lebih peka
untuk menjaga lingkungan dan menyelesaikan masalah lingkungan dengan solusi
yang tepat sasaran.
Bagaimanapun
juga, masalah air adalah masalah global yang bersama-sama diusahakan dari
berbagai pihak untuk meraih keseimbangan lingkungan sehingga di masa depan
kelak, generasi mendatang masih bisa menggunakan air.





Komentar
Posting Komentar