Hentikan Tradisi Bully
Dibawah ini sebuah cerita yang ditulis oleh user bloggerkay sendiri. Mungkin banyak kesalahan karena saya masih pemula. Awalnya, cerita ini merupakan tugas bahasa indonesia untuk Teks Eksemplum. Jadi, dapat disimpulkan gaez, kalo ini cerita adalah teks eksemplum. Selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan comment jika ada yg salah. Thanks.☺☺☺
Gadis Itu
Aku menatap bangunan putih besar yang terpampang jelas di
layar kaca. Bangunan itu sebenarnya lebih mirip seperti rumah sakit. Bangunan
ini adalah sebuah sekolah elit. Sekolah Eka Bangsa. Menghasilkan ratusan
lulusan terbaik yang dikirimkan ke berbagai universitas terkemuka di dunia.
Namun, saat ini, bangunan itu terpampang di layar kaca untuk kesekian kalinya
bukan karena prestasi mereka tetapi karena sebuah isu yang segera merebak bagai
virus dan menjadi topik utama para reporter di televisi. Isu senioritas. Begitu
rahasia umum bocor ke media, tak butuh berbulan-bulan untuk mengangkatnya
menjadi trending topic. Dalam hitungan hari setelah sebuah koran
mempublikasikannya sebagai topik utama, isu ini segera melibatkan beberapa
petinggi sekolah dan menjadi trending topic. Faktor utamanya ialah, satu,
Sekolah Eka Bangsa termasuk dalam seratus besar sekolah paling bergengsi di
dunia dan yang kedua, isu senioritas yang sedang marak dibahas dan Sekolah Eka
Bangsa menjadi titik gelap yang besar bagi bapak Menteri Pendidikan. Aku yakin
mereka segera kebakaran jenggot setelah membaca berita itu. Sekolah Eka bangsa
memang bermain topeng dengan sangat baik, sehingga setiap kebengisan yang
dilakukan kakak-kakak senior tak pernah terendus bekasnya. Temanku dulu pernah
mengalaminya. Saat aku masih menjadi murid kelas satu di sana. Itu memang masa
lalu yang kelam. Tradisi yang bengis sekali. Membuatku benar-benar bersyukur
tak pernah berlama-lama sekolah di sana.
Gadis
ini melangkah dengan mantap. Menatap gerbang sekolahnya yang baru. Ia berhenti
dan menatap sekolah barunya. Sekolah barunya, sebuah sekolah swasta elit di
kotanya yang amat dielu-elukan karena kualitasnya. Gedung dengan warna putih
yang mendominasi serta luas sekolah yang tak bisa dikira. Sudah dapat diukur
betapa mewahnya sekolah ini. Berdiri tepat di tengah kota yang juga sudah
berkembang pesat mengikuti era modern. Sekolah ini menjadi pusat pendidikan di
kota besar ini. Menjadi tonggak pendidikan kota ini. Sebenarnya, sekolah ini
sudah seabad lebih umurnya. Namun, kemajuan demi kemajuan, pembangunan demi
pembangunan membuatnya menjadi lebih modern. Bukan versi sekolah kuno seperti
Hogwart dalam film Harry Potter. Setelah serentetan tes yang ia hadapi, gadis
itu akhirnya dapat sekolah di Sekolah Eka Bangsa dengan beasiswa.
Tangannya mengusap air mata yang menetes pelan. Ini baru
hari kesekian ia tiba di sekolah barunya. Bahkan hanya dalam beberapa hari ini,
sudah ada lebih dari 5 kunjungan yang datang. Semata-mata untuk mempelajari
cara pembelajaran, cara kerja guru bahkan desain sekolah sampai
sedetil-detilnya. Hanya untuk meneladani sekolah ini, yang baru beberapa hari
yang lalu dikabarkan mampu menembus 200 besar sekolah paling bergengsi di
dunia. Dulu semua orang berdecak kagum melihatnya. Namun, semua rasa kagum,
iri, senang dan bangga itu, segera hilang setelah aku menjadi salah satu siswa
di sekolah ini. Aku melihatnya tersenyum miris. Masih menghilangkan semua bekas
tangisan yang keluar dari matanya. Ia bangkit, menatap puluhan siswa yang lebih
tua darinya. Mengepung gadis itu.
“Kamu!
Kamu masih berani bangun?” gertak seorang lelaki kurus tinggi pada gadis itu.
“Senioritas
itu nggak penting! Untuk apa tatar? Buang-buang tenaga, buang-buang waktu!”
balas gadis itu. Membuat puluhan siswa yang mengelilinginya semakin geram.
“Maksudmu
apa, hah?!!!” seketika itu juga suara deburan air mengalahkan teriakan gadis
itu. Seketika itu pula, suara gelak tawa memenuhi lapangan. Sementara gadis itu
dengan bajunya yang kotor dan basah kuyup terjongkok di tengah lapangan dengan kedua tangan kecilnya yang berusaha
melindungi dirinya dari air-air yang entah darimana itu. Gadis itu terjongkok
sendirian di sana, dikelilingi puluhan kakak senior yang sudah sedia dengan
amunisinya.
Ini semua karena tradisi. Yap, sudah tradisi di Sekolah
Eka Bangsa untuk melakukan tatar pada setiap ekstrakurikuler. Satu lagi, sudah
tradisi di sekolah ini untuk para senior memperbudak para junior dalam hal
apapun selama setahun penuh. Aku bertemu gadis ini dalam sebuah ekstrakurikuler
tari. Gadis ini sangat berpengalaman dalam tari, ia sudah menyabet banyak
sekali piala dalam lomba menari bahkan ia sering tampil di istana negara. Hari
ini gadis itu datang dengan marah ke ruang tari. Ia mennyambar pengeras suara
dengan kasar. Membawanya ke tengah lapangan. Aku mengikutinya, sambil berteriak
memperingatkan tapi ia malah memperingatkanku balik agar tak mengikutinya.
“Salam
kakak-kakak senior. Salam saudaraku satu angkatan, satu derita” suara itu
membuat beberapa kakak-kakak senior mengerubunginya.
“Teman-teman,
kita satu penderitaan. Kita diperbudak. Kita dijajah. Bukan oleh bule-bule
Belanda tetapi oleh bangsa kita sendiri. Oleh kakak-kakak senior yang gila
tradisi. Masa bodoh dengan tradisi. Tradisi ini telah melanggar hak kita.
Menghancurkan harga diri kita---“
BYUR!!
Pidato gadis itu terpotong oleh air yang disiram Kak Rahman, Ketua OSIS Eka
Bangsa. Bukan hanya satu, tapi belasan ember air dingin yang disiram ke gadis
itu. Aku bergidik ngeri, menjauh dari lapangan tetapi tetap menatap gadis itu.
Dari sekian banyak junior, hanya dia seorang yang peduli bahwa ini adalah
pelanggaran hukum. Junior yang lain, lebih memilih menjadi sepertiku mengeluh
di belakang dan tidak berani melawan, menyiapkan dendam sebanyak mungkin untuk
dibalaskan pada adik kelas kami nanti. Siklus itu terus berputar menjadi
tradisi.
Keesokan harinya, gadis itu tidak masuk sekolah, begitu
juga berikutnya dan seterusnya. Sampai akhirnya sebulan setelahnya, seorang
guru datang memberi daftar siswa yang baru dan berkata bahwa gadis itu sudah
pindah. Bisik-bisik segera memenuhi kelas bersamaan dengan keluarnya guru itu.
Hari itulah hari terakhir aku mendengar namanya. Aku tidak pernah tahu
bagaimana kabarnya setelah itu. Bagaimana dengan tradisi senioritas itu? Tentu
saja masih berjalan lancar dan menyiksa karena tidak ada yang menghambat lagi.
Namun, gadis itu membuat sedikit penyesalan dalam diriku karena takut saat itu.
Takut melawan yang salah.
Aku menarik napas panjang, mengusap-usap wajahku. Andai
dulu aku sama sepertinya. Andai dulu teman-teman bersatu melawan, bukankah
gadis itu mungkin masih bisa bersekolah di sana? Andai aku dulu pemberani
seperti dia. Tanpa kenal takut melawan yang salah, melawan yang kuat. Menghentikan
tradisi buruk. Lihatlah, setelah bertahun-tahun tradisi itu ada, baru terkuak
sekarang. Andaikan dulu kami berhasil menghentikan tradisi itu.
NB: media dibawah hanya diambil secara random dari youtube dengan kata kunci bully. Thank you for read.
NB: media dibawah hanya diambil secara random dari youtube dengan kata kunci bully. Thank you for read.
Stop bullying! 😝
BalasHapus