Ceritera OPSI 2019: Tips Sukses Final OPSI! (part 2)

Ciao again!

Seperti apa yang aku bilang di part 1, aku bakal lanjutin untuk ceritera hari-H nya di part 2 ini!

Final diadakan dengan rentetan agenda selama 6 hari, let's say

Hari 0 : Kedatangan dan registrasi ulang
Hari 1 : Sesi keakraban dan pengembangan diri
Hari 2 : Pameran
Hari 3 : Presentasi
Hari 4 : OPSI goes to school dan penutupan
Hari 5 : Kepulangan

So, let's start dari Hari 0 yak!

Hari 0 : Kedatangan dan Registrasi Ulang

Aku baru tidur jam 3 pagi, kontingen DIY sepakat serentak naik bis ke Solo, langsung ke Hotel Sunan bersama para pembimbing. Kami berangkat pagi sampai siang hari dan langsung diijinkan makan siang hehe. Aku jujur belum sangat sangat siap karena masih editing ppt selama di bis. Alhamdulillah bis nya ada stopkontaknya. Emang parah banget sih. Anyway untuk ppt biasanya ada batas slide, tapi kami bikin strategi tambahan, kalau ada beberapa hal yang perlu ditunjukkan juri (pada sesi tanya jawab) kami buat hide slide yang lumayan banyak. Ngga ada aturannya kami ngga boleh pakai hide slide (walaupun akhirnya tidak terpakai juga).

Registrasi ulang ini dibagi per bidang dan di situ bakal ketemu sama LO-nya. Registrasi per bidang mengumpulkan beberapa syarat seperti terkait penelitian dan berkas individual. Pokoknya urutkan berkas kalian sesuai dengan urutan di surat edaran lalu taruh di map ya! Jangan sampai tercecer. Selain itu, saat registrasi bidang kami juga langsung mengumpulkan ppt ke panitia. Di situ kami dapat tas OPSI, handbook OPSI, bolpen, kaos OPSI, kartu peserta, dan batik OPSI. Setelahnya, registrasi untuk mengurus biaya perjalanan. Lalu tunggu kartu kamar nya stand by, kadang habis jadi harus menunggu ada stok lagi. Satu kamar isinya berdua, kalau satu tim beda gender biasanya janjian sama kelompok lain yang juga beda gender atau sendirian. Selama waktu registrasi hingga malam, kami dapat jam bebas untuk apa saja. Banyak yang segera prepare stand atau mengurus pritilan pameran yang belum siap. Jangan ragu untuk berbuat baik dan berkenalan dengan banyak orang, ini kesempatan yang bagus untuk mencari teman! Bahkan, aku lupa bawa buku tamu yang biasanya pakai buku tamu nikahan dan seseorang guru dari stand lain memberikan ku satu karena ia membeli lebih, setelah melihatku berkutat dengan buku gelatik batik untuk disiapkan jadi buku tamu. Sungguh kebetulan yang menyenangkan, bukan? 

Hari 1: Sesi Keakraban dan Pengembangan Diri

Pada hari pertama, semua peserta berkumpul dengan format acara yang sangat santai. Kakak panitia membimbing kami untuk pemanasan dengan menari lalu memainkan games untuk membagi kami menjadi kelompok-kelompok. Berbagai cerita terlontarkan. Di sini bakal terasa banget penderitaan selama melakukan penelitian itu milik bersama. Setiap penelitian punya masalah dan finalis di sini adalah orang-orang yang tidak menyerah dengan masalahnya. Dari finansial, keterbatasan sarana, responden kuesioner yang tidak bisa diandalkan, alat yang moodswinger, keunikan responden penelitian yang beragam hingga hal-hal lain yang membuatku merasa, aku mah masih sangat kecil pengorbanan dan penderitaannya. Pun ternyata banyak peserta yang sesama kelas 12, terpaksa bolos les yang berjuta-juta atau masih harus mengerjakan tugas les sambil mengerjakan penelitian. 

Selain sharing cerita dan mimpi, panitia juga menghadirkan bintang tamu yang menginspirasi dan mengawal finalis untuk menyampaikan ide penelitian dengan lebih santai dan terstruktur. Bahkan ada juga sesi diskusi dengan melempar beberapa tema yang sedang marak seperti sistem ganjil-genap. Seru sekali bertemu teman-teman yang satu frekuensi, sama-sama suka berpikir kritis dan tidak saling under estimate orang lain yang beropini dengan sebutan 'pasti dia anak pintar' serta menjauhinya. Stigma yang meluncurkan kreativitas anak muda menjadi terjun bebas kualitasnya. Sayang sekali, seharian berkegiatan menyebabkan banyak dari peserta kelelahan terlebih acara malam sangat forma dan lebih berformat workshop. Bahkan teman-temanku banyak yang bolos atau tertidur. Pasca acara selesai, aku dan teman timku menyiapkan segala sesuatu untuk pameran hingga tengah malam. Prepare for the worst!


Hari 2: Pameran

Bangun pagi, menyiapkan segala bentuk atribut, dan stand by di stand. Pembukaan acara secara resmi juga dilaksanakan di hari kedua. Pameran dilaksanakan sekitar jam 9 sampai sore. Setiap saat sangat ramai dan penuh pengunjung. Banyak dari mereka merupakan siswa-siswa yang dikirim sekolahnya untuk mampir. Pada saat seperti itu, baiknya koordinasikan dengan teman satu tim untuk gantian ke kamar mandi, solat, dan makan. Jangan sampai stand pameran kosong. Berbaik hatilah membagikan souvenir cuma-cuma. Toh kalau tidak mau diberikan pada siapa, menambah beban pulang saja. Juri-juri bisa saja hanya lewat dan memotret atau bahkan mampir bersamaan. Ada yang suka bertanya dan ada yang suka diam saja. Kebetulan saat diminta untuk uji alat, kami tidak bisa mencoba. Tidak perlu takut, masih ada sesi presentasi yang bisa diandalkan untuk uji coba. Tetapi, jika alat tidak memungkinakan untuk uji coba, tambahkan video uji coba. Ini sangat membantu untuk meyakinkan juri bahwa alat berfungsi dengan baik. Juri-juri yang mampir datang saat makan siang karena notabene pengunjung agak sepi disebabkan banyak yang ke mushola atau mencari makan. Tetap semangat walaupun gagal dan jurinya agak menyebalkan. Masih ada babak pertarungan selanjutnya yaitu presentasi! 

Untuk malamnya pun kami bebas istirahat. Waktu aku habiskan dengan temanku untuk latihan di kamar, terlebih ibunya datang saat pameran dan membawakan lele dan nasi. Alhasil kami makan bersama di kamar. Padahal jelas makanan di hotel bisa lebih enak, tapi rupanya temanku tidak cocok dengan makanan hotel dan mengeluh sakit perut sejak pagi. Ini juga menjadi hal yang harus diperhatikan. Panitia memang menyediakan dokter tetapi pastikan selalu siap sedia obat yang biasanya digunakan jika memang memiliki beberapa penyakit tertentu yang bisa kambuh.

Hari 3 : Presentasi

Tempat presentasi tiap bidang berbeda. Pun sepertinya tiap tahun bisa berbeda sistem presentasi-nya. Tahun 2019, sistem presentasi dilaksanakan dengan acak. Panitia mengambil acak dan keluar nomer tim yang akan maju. Sebelum peserta pertama masuk, peserta itu diharuskan mengambil undian nomer untuk giliran maju selanjutnya. Bidang teknik merupakan bidang dengan finalis paling sedikit. Teknik selesai siang hari. Kebetulan aku dapat giliran ketiga. Dan giliran awal sangat menyenangkan. Jangan menyiapkan terlalu serius sebelum maju presentasi. Ke kamar mandi dulu supaya tidak nervous. Siapkan sesuatu untuk dipegang jika nanti grogi untuk menyalurkan grogi itu. Rileks. Bahkan aku bermain game dan ngobrol ketika menunggu giliran. Siapa bilang aku tidak grogi? Aku lebih baik mengalihkan pikiranku daripada memikirkan seberapa grogi diriku. Jika bukan peserta pertama, tanyakan peserta sebelum-sebelumnya bagaimana pengalaman mereka dan pertanyaan yang diajukan. Ada temanku yang diberi pertanyaan bahasa inggris tapi aku tidak. Ini bisa berbeda-beda. Tidak perlu takut salah, jawablah sebisanya, jika salah ucapkan terimakasih pada juri atas koreksinya. Tidak salah pun bukan berarti sempurna. Bahkan aku rasa ada kesalahan istilah yang fatal saat kami presentasi. Oh iya, ketika presentasi, tunggu diijinkan untuk memulai dan setelahnya, panggung adalah milikmu!

Kami bahkan mengatur waktu dengan detail bagaimana menyelipkan ujicoba alat tanpa waktu yang lama. Ketika teman ku menyiapkan untuk uji coba, aku menjawab pertanyaan, sebisaku. Kami hampir saja gagal ujicoba. Hampir saja. Hingga setelah sekian kali mencoba, sampai juri keluar dari kursi dan memegang alat kami, ikut berpartisipasi membuktikan berjalannya alat kami. Hingga akhirnya, kami bersorak (pun juri tampak sangat senang) karena akhirnya bisa berjalan. Juri-juri teknik memang sangat santai dan menyenangkan, walaupun memang ada yang agak nyeleneh, tapi itu lebih baik daripada bidang-bidang lainnya yang bahkan peserta keluar dari ruang presentasi dalam keadaan menangis. 

Hari 4 : OPSI goes to school dan pentupan

Tahun 2019 adalah pertamakalinya OPSI mengadakan agenda goes to school. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk pergi ke beberapa sekolah di Solo. Menjadi tamu untuk sharing tentang pengalaman penelitian kami. Hari itu hari Jum'at yang sangat panas di Solo sehingga karena waktu, kami tidak sempat mampir terlalu lama di mana-mana. Bagiku toh, Solo sedekat nadi dengan Jogja. Hanya kasihan saja teman-teman yang jauh dari luar Jawa. Tapi tetap saja, pasti menyempatkan membeli oleh-oleh. Pun di hotel ada yang menyiapkan souvenir-souvenir bertuliskan OPSI. Memang ladang usaha ya gaes haha. 

Sorenya, kami berganti baju batik OPSI menghadiri penutupan sekaligus pengumuman. Aku tidak terlalu bersemangat. Memang dasarnya pesimis, apalagi kami punya kesalahan fatal saat presentasi dan pameran sehingga cukup masuk akal untuk merasa tidak akan menang. Satu per satu basa-basi dan pertunjukan ditampilkan hingga akhirnya pengumuman dimulai dari penghargaan khusus dan diakhiri medali emas. Ketika penutupan, teman satu timku mengeluh sakit perut, bahkan aku menawarkan untuk pergi ke kamar saja. Toh nanti pemenangnya siapa bisa kami ikuti perkembangannya dari kabar kawan lainnya, aku berdalih. Bahkan aku minta izin LO bidang teknik untuk kembali ke kamar. Yang tentunya ditolak mentah-mentah karena acaranya toh juga tidak lama-lama sekali. Satu per satu juara dipanggil. Aku berpesan pada satu temanku untuk meminta maaf jika kami kalah dan menerimanya dengan lapang dada. Kami sudah ikhlas sebelum hal apapun itu terjadi. Teman satu DIY maju. Teman satu kelompok OPSI goes to school pun maju. Hingga teman satu sekolahku maju. Dan secara tidak terduga, aku benar-benar tidak menduga, nama kami dipanggil, sebagai penerima medali emas. Sungguh bercanda yang tidak lucu, ya?

Aku dan temanku maju, berfoto bersama para juri, salah satu yang sangat kuingat adalah bapak dosen ITB. Entah karena aku memang fanatik dengan ITB atau karena keunikan beliau. Beliau adalah guru besar. Prof. Dr. Dwi Hendratmo Widyantoro namanya. Setelahnya aku tahu ternyata pula beliau adalah seorang Machine Learning expert. Senada dengan tema penelitian kami. Saksi bahwa kami gagal memenuhi permintaan beliau untuk menjalankan alat kami saat pameran. Pun penanya yang kami kecewakan karena salah mendefinisikan istilah transfer learning. Aku bahkan hampir ingin menyempatkan mendengar orasi ilmiah beliau di youtube jika saja sempat. Hampir. Sangking niatnya stalking juri. Karena sepertinya tidak akan faham, maka kuurungkan. Lucu rasanya setelahnya kami justru mendapat medali emas. Tapi masih banyak syukur yang bisa dihaturkan, toh lihatlah temanku yang tadi sakit perut, ia menangis bahagia dan berkata tentang janjinya pada almarhum ayahnya. Hadiah terbaik untuk ulang tahun almarhum ayahnya. Dan setelahnya, aku bertemu dengan LO yang tadi berkirim pesan denganku, kami saling meledek karena aku akan sangat bodoh jika meninggalkan medali emas itu tanpa ada yang maju ke depan. Ya, setiap momen memiliki maknanya tersendiri.


Hari 5 : Kepulangan

Pagi benar aku bangun karena tertidur belum sempat menyelesaikan packing. Seperti saat berangkat, kontingen DIY pun pulang bersama. Ingat saja jangan ada yang tertinggal. Makan sarapan yang puas karena kapan lagi makan gratis? Intinya, pagi itu, aku pulang dengan kenyang dan menyelesaikan perjalanan dengan panjang bercerita di bis. Sekian banyak penyesalan karena lolos sedikit-banyak terbayar dengan pengalaman yang menyenangkan dan teman-teman yang sama-sama berjuang di jalur penelitian. Mendengar banyak peserta yang masih terjerembab pada masalah sekolah yang tidak mendukung jelas membuka mata betapa belum merata-nya semangat meneliti. Pesan yang teramat jelas bagi setiap peserta yang kembali pulang, sebarkan semangat meneliti! Karena di sana lah pengalaman-pengalaman yang tidak kalah seru hadir dibalut dengan serunya belajar.


Thats all, gaes. Stay safe, stay healthy, stay wash your hands! 
Akhir Mei 2020 deadline proposal KOPSI 2020, walaupun di masa pandemik, para peneliti generasi 2020 pasti bisa menyelesaikan rintangan dengan kreatif. Semoga kita semua dimudahkan dan segera melalui pandemik ini. Semoga juga ceritera panjang ini bermanfaat dan ambil saja yang baik, yaa. 

Best regards,
Kayla

P.s. bonus foto bareng juri! Tebak pak dosen ITB yang mana?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ceritera OPSI 2019: Tips Sukses Final OPSI! (part 1)

Kesan Pesan untuk SMPN 8 Yk- Bhawara-

Ada Apa dengan Air Indonesia? Musim Hujan Banjir, Kemarau Kering