Jati Diri PJJ



Online learning atau bagi anak SMA ke bawah sering disebut PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) tentu memiliki banyak pro dan kontra. Berita-berita tentang sekolah swasta yang tutup juga berseliweran di mana-mana sebagai akibat dari sisi kontra PJJ.

 

Online learning dari mata saya terlihat menyenangkan. Berbekal handphone dan laptop, semua di dalam genggaman. Berbagai tugas mungkin datang, diikuti tantangan untuk senantiasa pandai membagi waktu dengan baik. Sejatinya saya tidak merasakan PJJ itu. Pasca sekolah dirumahkan, saya langsung belajar menggunakan bimbel online. Memetakan materi, jadwal sendiri, goals sendiri, dan kuota. Bagi saya, libur mendadak saat itu sangat menyenangkan, sebab selama ini saya harus ke sekolah karena tidak enak bolos dan berakhir tidak produktif menyelesaikan materi untuk tes masuk PTN. Dan begitupula PJJ di mata saya. PJJ sebenarnya menjadi peluang besar bagi siswa untuk benar-benar mengeksplorasi diri di luar kotak-kotak yang diberikan sekolah. Tidak ada ekskul. Tidak ada guru yang mengawasi. Saya yakin jika tugas-tugas bisa diatur untuk tetap selesai, banyak waktu bagi siswa benar-benar mengeksplorasi materi yang diberikan atau justru mendalami minatnya di bidang yang lain. Tanpa perlu dihakimi oleh guru dan orang lain.

 

Namun, memang tak bisa dinyana, populasi orang yang pandai dan senang mengeksplorasi diri sendiri lebih undominan daripada populasi orang yang selalu butuh tuntunan bereksplorasi. Populasi dominan ini biasanya harus belajar dengan mengikuti les atau bimbel, patuh sekali pada kurikulum sekolah dan kata-kata guru, serta lebih senang mengikuti apa yang lingkungan minta dibanding mengeksplorasi di luar zona. Tidak ada yang salah menurut saya, semua berhak dengan pendirian masing-masing. Jika cocok dengan tuntunan dari bimbel/les, sekolah, dan lingkungan maka kenapa tidak, bukan begitu?

 

Namun, di akhir kata, jelas dapat diketahui bahwa akan ada saatnya di mana apa-apa harus diatur sendiri daripada membayar orang untuk mengatur-atur. Apa-apa perlu diinisiasi sebab dengan mengikuti ternyata seiring waktu banyak percekcokan jalan yang tidak cocok.

 

Di luar daripada infrastruktur Indonesia yang belum merata dan kantong kuota yang semakin melarat, sejatinya melalui PJJ ini setiap siswa diminta menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Siapa yang sukanya ikut-ikut saja akhirnya keteteran, siapa yang suka titip nama tidak mungkin membully fisik, siapa yang selalu mengambil sisi positif senantiasa mengambil keuntungan, dan siapa yang selalu memandang sisi negatif senantiasa mengeluarkan sambat. Mungkin pandemi memang bukan lomba produktivitas, tetapi kesempatan untuk bereksplorasi mengenai jati diri. Dan cara bereksplorasi ini, bisa dengan menjadi produktif (doing) atau memahami diri (being).



--Kay

Tryin' to be routine again w/ random topics, forgive me for being lost a lot of time

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ceritera OPSI 2019: Tips Sukses Final OPSI! (part 1)

Kesan Pesan untuk SMPN 8 Yk- Bhawara-

Ada Apa dengan Air Indonesia? Musim Hujan Banjir, Kemarau Kering