Menjadi Penulis Pemula : Dalam Mata Kayla
Saya hampir berumur 19 tahun. Baru saja nyemplung ke dunia
perkuliahan setelah diundang ke kampus almamater karung goni. Stay at home dan waktu
kosong antara pengumuman SNMPTN dengan masuk kuliah yang sepanjang sekian purnama
membuat saya banyak mengulik tentang dunia menulis. Menjadi pembaca rutin blog Pak
Dahlan Iskan, DI’s Way, dan membaca Mojok membuat saya terinspirasi untuk
benar-benar bermain dengan kata-kata.
Berkenalan dengan menulis tentu tak ayal berpisah dengan
membaca. Berbagai jenis buku cerita saya lahap habis-habisan sejak Sekolah
Dasar. Dari novel Tere Liye hingga KKPK yang sedang tren saat itu, semua saya
baca. Bahkan koran yang selalu Abi beli ketika Sabtu atau Minggu kadang saya
lahap semua kolom karena kehabisan bacaan. Walau saya lebih tertarik dengan
berita politik atau kriminal sederhana, lebih bagus lagi jika ada segmen yang
menarik di luar politik dan ekonomi. Sayang, saat SMP saya jarang pergi ke
Perpustakaan Kota yang menyimpan segudang buku menarik. Ya, begitulah, bagaimanapun
sebenarnya bahan bacaan saya bukan buku-buku filosofiah yang membuat berpikir
sambil guling-guling. Semenjak putih abu-abu, saya lebih senang melahap
informasi melalui visual video youtube seperti TedTalk atau channel-channel
edukasi lainnya.
Informasi Sebagai
Kerangka Menari di Atas Kertas
Berbagai informasi terbentang luas. Sebagai penerima, ada 3 pilihan dalam memilih informasi yang seperti apa yang akan dilahap, menurut saya. Informasi di atas, tengah atau di bawah. Di atas langit akan selalu ada langit, begitupula di bawah tanah akan ada tanah. Informasi terdiri dari 3 yaitu informasi yang di atas jangkauan yaitu informasi-informasi tentang kehebatan innovator dari Jepang, roket Hope dari UEA, atau bahkan permainan politik AS dengan China yang terlalu di luar jangkauan kita atau Indonesia. Sementara yang kedua ialah informasi yang berada di tengah atau ada di dalam jangkauan, yaitu informasi tentang sekitar, apa yang Indonesia raih saat ini, dan lebih kepada kondisi sekarang diri. Sementara informasi yang ketiga, di bawah jangkauan, yaitu informasi-informasi terkait hal-hal yang di bawah daripada kondisi diri saat ini, misal Brazil dan Bolivia dengan kondisi akibat pandemic yang mengenaskan atau kondisi Uyghur, Palestina dan sebagainya. Jika diri dianggap sebagai suatu negara, maka informasi 1 artinya kondisi pada suatu aspek yang lebih baik daripada kondisi negara saat ini, informasi 2 berupa kondisi saat ini, dan informasi 3 berupa kondisi pada suatu aspek yang lebih buruk daripada kondisi aspek tersebut di negara saat ini.
Melalui pengetahuan akan di mana posisi informasi yang
sedang diserap, akan terbentuk opini-opini yang lebih tajam berdasarkan data
berbagai kondisi dengan memperhatikan plus-minusnya. Well itu baru satu tips
menulis aja sih, saya notabene penerima informasi better jadi lebih suka membandingkan
Indonesia dan negara-negara maju hehe. Intinya sih, melalui kesadaran akan hal
tersebut kita jadi faham bahwa ada hal-hal tertentu yang membuat negara kita better
tapi ada juga yang worse. Dan begitupula manusia.
Kemampuan menulis tentu tidak lepas dari kemampuan membaca
dan kelihaian menyaring informasi. Membawa jiwa dalam menulis merupakan kunci
utama menurut saya hingga saat ini dalam menghasilkan tulisan yang bagus. Saya
sendiri sebenarnya sedang mencoba keluar dari zona nyaman saya dengan menulis
bebas, melalui blog ini. Sebelumnya, pada masa sekolah dasar, saya bergelut
dengan cerita fiksi, tampaknya bukan bidang saya. Saya loncat mencoba
menggambar komik. Tampaknya biaya alatnya terlalu mahal. Hingga saat putih
abu-abu saya mencoba berkiprah di dunia tulisan ilmiah melalui penelitian dan
esai-esai. Kepercayaan diri saya dalam menulis pun terbangun dari situ.
Pengakuan Eksternal
Dalam menulis, kita tidak pernah tahu setelah raturan
purnama menulis, tulisan seperti apa yang bagus. Sehingga teknik Tiru Amati
Modifikasi menjadi cara mudah memenuhi capaian kata bagus dari suatu karya.
Namun, kita tahu bahwa kualitas suatu karya tidak hanya terbatas pada hal itu. Tapi
teknik itulah yang mengantarkan saya untuk belajar mencapai kebahagiaan berhasil
menulis yang lebih terperinci dan jelas. Dengan mencoba mencari contoh dan
meniru pola pikirnya, lebih mudah bagi penulis pemula seperti saya untuk memulai.
Sebab memulai selalu lebih sulit. Tapi itulah kuncinya, berani memulai.
Selanjutnya, pengakuan eksternal menjadi hal yang bertahap
perlu diraih. Dalam lingkungan sekolah tentu ada guru Bahasa Indonesia, atau di
lingkungan lain mungkin teman yang kita ketahui lebih pintar dari kita dalam
menulis. Mencari mentor adalah langkah
selanjutnya. Pengakuan eksternal didapatkan secara bertahap. Melalui
beberapa mentor, kita mulai bisa memetakan kesalahan dan apa sih sebenarnya
yang hendak disampaikan tulisan kita serta cara terbaik apa untuk
menyampaikannya?
Selanjutnya, mengikutkan tulisan kita ke lomba-lomba gratis. Tanpa resiko, itulah tahap selanjutnya
terutama bagi saya yang mudah insekur. Namun, ketika suatu kesempatan hadir
tanpa resiko, lebih mudah bagi kita ikhlas akan kekalahan jika kalah. Nothing
to lose. Begitu istilahnya. Setelahnya barulah mencoba lomba-lomba berbayar atau tema-tema
yang menantang.
Namun, apabila skill menulis memiliki intensi selain perlombaan, kualitas tulisan bisa diuji dengan mengirimkan pada koran/majalah/mojok/media lainnya. Melalui berbagai kekalahan hendaknya tidak terburu-buru marah dan menyerah. Tenangkan diri dahulu. Renungkan kesalahan apa yang terjadi selama proses menulis. Apakah tema dan tulisan tidak cocok? Apakah tulisan belum menunjukkan suatu kesatuan? Apakah lebih banyak copy paste daripada menuangkan isi kepala? Apakah apa yang disampaikan pun diri sendiri tidak faham? Atau preferensi juri berbeda daripada bentuk tulisan yang ditawarkan? Ada banyak sekali pertanyaan yang bisa diajukan. Melalui evaluasi itu, baru diujicoba kembali apakah benar di sana kesalahannya?
Pengakuan eksternal menjadi penting sebab sebuah tulisan
yang dipublikasikan tidak bertujuan untuk membuat faham penulis atau
menyampaikan aspirasi penulis saja. Namun, membuat pembaca merasa tenggelam dan
memaknai rasa yang sama dengan penulis, saling memahami.
Penulis Pemula
Bukan berkarir sebagai penulis, penulis pemula seperti saya
lebih senang menulis saja untuk mencurahkan segala sesuatu. Sebagai skill
pendukung pekerjaan sehari-hari. Lagipula, menulis akan selalu menjadi skill
yang dibutuhkan selama pikiran manusia tidak bisa ditata secara otomatis.
Selamat bermain dengan kata!
-Kayla

Komentar
Posting Komentar